Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya

Ilustrasi Bahren Nurdin. 

JAMBI, BESALE.ID
— Pancasila hampir selalu terdengar lantang ketika upacara digelar. Lima silanya dibacakan, Merah Putih dikibarkan, dan berbagai seruan tentang persatuan kembali disampaikan.

Tetapi ada satu ruang yang jarang ikut disebut dalam setiap peringatan Hari Kesaktian Pancasila: dunia maya.

Padahal, di sanalah jutaan orang Indonesia menghabiskan sebagian waktunya setiap hari. Di ruang digital, orang bebas berbicara, mengkritik, berdebat, menyebarkan informasi hingga membangun persepsi tentang orang maupun kelompok lain.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar apakah masyarakat masih hafal Pancasila.

Pertanyaannya, apakah lima sila itu ikut bekerja ketika jari menyentuh layar ponsel?

Pengamat Sosial UIN STS Jambi, Bahren Nurdin, mengangkat pertanyaan tersebut dalam tulisannya berjudul “Menguji Kesaktian Pancasila di Era Digital”.

Ia melihat tantangan Pancasila saat ini tidak hanya datang dari persoalan kenegaraan dalam pengertian konvensional. Tantangan juga muncul dari perilaku masyarakat sendiri ketika menggunakan ruang digital.

Menurut Bahren, masyarakat Indonesia tidak kekurangan hafalan tentang Pancasila. Yang menjadi persoalan adalah jarak antara nilai yang diucapkan dengan tindakan yang dilakukan.

Ketuhanan Jangan Berhenti di Konten

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mendapat ujian ketika perbedaan pendapat bertemu dengan keyakinan seseorang di media sosial.

Konten religius dapat dibuat dalam hitungan detik. Kutipan ayat, nasihat dan pesan moral dapat disebarluaskan kepada ribuan orang.

Namun, menurut Bahren, ukuran nilai ketuhanan tidak semestinya berhenti pada apa yang tampil di beranda.

Cara seseorang berbicara kepada orang yang berbeda pandangan juga menjadi bagian dari cermin nilai tersebut.

Sebab, tidak ada gunanya berbicara tentang moralitas jika ruang digital justru dipenuhi penghinaan, caci maki dan kebencian terhadap sesama.

Ketika Tombol Share Menjadi Persoalan Kemanusiaan

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menghadapi persoalan yang semakin kompleks akibat kecepatan informasi.

Sebuah video pendek dapat viral sebelum konteksnya diketahui. Foto dapat beredar tanpa penjelasan. Pernyataan seseorang dapat dipotong sehingga menghasilkan persepsi berbeda.

Kemudian publik ramai-ramai memberikan hukuman sosial.

Bahren mengajak masyarakat berhenti sejenak sebelum ikut dalam arus tersebut.

Kemampuan teknologi menyebarkan informasi memang semakin cepat. Tetapi kecepatan tidak boleh mengalahkan akal sehat.

Satu klik mungkin hanya membutuhkan satu detik, tetapi dampaknya terhadap seseorang bisa jauh lebih panjang.

Karena itu, menahan diri untuk tidak langsung membagikan informasi yang belum terverifikasi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap kemanusiaan.

Persatuan yang Terancam oleh Ruang Informasi Sendiri

Di atas kertas, media sosial mampu menghubungkan siapa saja.

Namun dalam praktiknya, masyarakat justru dapat semakin terkotak-kotak.

Algoritma cenderung menyajikan konten yang dianggap relevan dengan minat pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terus berada di lingkungan digital yang berisi pandangan yang hampir sama.

Lama-kelamaan, perbedaan terasa asing.

Pandangan yang tidak sesuai dengan keyakinan sendiri dianggap salah. Bahkan, orang yang berbeda pilihan dapat diperlakukan seperti lawan.

Bahren melihat kondisi ini sebagai tantangan terhadap sila ketiga, Persatuan Indonesia.

Persatuan, katanya, bukan berarti menghapus perbedaan. Persatuan justru diuji ketika masyarakat mampu tetap menghormati orang lain meskipun memiliki pandangan yang berbeda.

Demokrasi Jangan Berubah Menjadi Perang Kolom Komentar

Era digital juga memberikan ruang yang semakin luas bagi masyarakat untuk bersuara.

Kritik terhadap pemerintah dapat disampaikan secara terbuka. Kebijakan publik dapat diperdebatkan. Aspirasi masyarakat dapat memperoleh perhatian tanpa harus selalu melalui forum formal.

Namun kebebasan tersebut memiliki konsekuensi.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengandung kata penting: hikmat kebijaksanaan.

Artinya, kebebasan menyampaikan pendapat tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab.

Kritik seharusnya diarahkan kepada persoalan, bukan penghancuran pribadi.

Perbedaan pilihan tidak harus berujung permusuhan.

Dan jumlah dukungan di media sosial tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan benar atau salahnya sebuah pandangan.

Jika setiap perbedaan dibalas dengan serangan pribadi, ruang demokrasi digital justru kehilangan substansinya.

Keadilan Bukan Hanya Soal Siapa yang Memiliki Uang

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga menghadapi tantangan baru.

Digitalisasi memang membuka berbagai kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak otomatis dirasakan semua orang secara sama.

Ada masyarakat yang memiliki perangkat, jaringan internet dan kemampuan literasi digital yang memadai. Ada pula yang masih menghadapi keterbatasan akses dan pengetahuan.

Pertanyaan tentang siapa yang dapat mengakses teknologi, siapa yang mampu memahami informasi, serta siapa yang memiliki kesempatan menyuarakan kepentingannya menjadi bagian dari persoalan keadilan sosial di era digital.

Dengan kata lain, kesenjangan digital juga memiliki dimensi sosial.

Pancasila Jangan Hanya Hidup Saat Upacara

Bahren pada akhirnya mengajak masyarakat melihat Pancasila bukan sebagai simbol yang hanya muncul pada momentum tertentu.

Pancasila seharusnya hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang dibuat setiap hari.

Termasuk ketika seseorang menerima informasi yang belum jelas sumbernya.

Termasuk ketika berhadapan dengan komentar yang berbeda.

Termasuk ketika menemukan kelompok yang memiliki keyakinan berbeda.

Dan termasuk ketika informasi yang beredar sangat menguntungkan pandangan pribadi.

Di situlah nilai Pancasila mendapat ujian yang sesungguhnya.

“Pancasila tidak perlu diselamatkan oleh slogan. Pancasila harus diselamatkan oleh perilaku. Termasuk perilaku kita di dunia digital,” tulis Bahren.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila akhirnya tidak cukup hanya menjadi agenda tahunan.

Sebab setelah bendera diturunkan dan upacara selesai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Orang kembali membuka media sosial.

Kembali membaca berita.

Kembali berkomentar.

Kembali membagikan informasi.

Dan kembali berhadapan dengan orang yang mungkin berbeda pandangan.

Di situlah lima sila seharusnya bekerja.

Pancasila tidak sedang diuji oleh seberapa indah kita mengucapkannya pada 1 Oktober.

Pancasila diuji oleh apa yang kita lakukan pada 2 Oktober dan hari-hari setelahnya.

Sebab tantangan terbesar mungkin bukan membuat masyarakat hafal Pancasila.

Tantangan sebenarnya adalah membuat nilai Pancasila tetap hidup ketika tidak ada podium, tidak ada upacara, dan tidak ada kamera yang merekam.

Hari ini, ruang pengujiannya ada di mana-mana.

Salah satunya ada di benda yang paling dekat dengan tangan kita: ponsel.***

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya
  • Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya
  • Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya
  • Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya
  • Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya
  • Hari Kesaktian Pancasila 2026: Ujian Lima Sila Kini Berlangsung di Dunia Maya

Posting Komentar