Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi

Pembukaan PPSN VI di Malang. (FOTO: Kemenag)

BESALE.ID
— Dua puluh tahun perjalanan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) bukan sekadar cerita tentang tenda, api unggun dan kegiatan kepramukaan. 

Enam kali penyelenggaraan sejak 2006 menunjukkan bagaimana ruang pertemuan santri dari berbagai penjuru Indonesia terus berubah mengikuti tantangan zamannya.

Jika pada awal kemunculannya PPSN identik dengan aksi kolosal dan pencatatan rekor, dua dekade kemudian orientasinya bergerak lebih jauh. PPSN VI di Malang membawa isu lingkungan melalui gagasan ekoteologi—menempatkan kepedulian terhadap bumi sebagai bagian dari nilai keagamaan dan karakter santri.

Catatan Tim Humas Ditjen Pesantren, Jumat (2/10/2026), menyebut perjalanan PPSN dimulai di Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur pada 2006. Dari sana, perkemahan santri berkembang ke sejumlah daerah dan menghadirkan tema serta warisan yang berbeda dalam setiap edisinya.

Cibubur 2006, Awal Perjalanan

PPSN pertama berlangsung pada 10–14 September 2006 di Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur, Jakarta.

Ribuan santri dari berbagai daerah berkumpul dalam satu agenda nasional. Salah satu aksi yang paling dikenang adalah pembentangan kacu Pramuka berukuran raksasa yang tercatat dalam Rekor MURI sebagai kacu terbesar.

PPSN I berlangsung pada masa Menteri Agama Maftuh Basyuni dan dibuka langsung oleh Menag ketika lembaga tersebut masih bernama Departemen Agama.

Beberapa catatan menyebut jumlah peserta mencapai lebih dari 5.000 pramuka santri.

Penyelenggaraan perdana itu juga berlangsung tidak lama setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 Agustus 2006 mencanangkan Gerakan Revitalisasi Pramuka. 

Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan kepanduan agar lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan masyarakat.

Sejak awal, PPSN memiliki fungsi penting sebagai ruang perjumpaan santri dari berbagai daerah dalam satu semangat kebangsaan.

Jatinangor 2009, Pesan Kebangsaan dalam Semaphore

Tiga tahun kemudian, PPSN kembali digelar. Kali ini Bumi Perkemahan Letjen (Purn.) Dr. H. Mashudi, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, menjadi tuan rumah pada 15–20 Juni 2009.

Sekitar 5.500 pramuka santri ikut ambil bagian.

Salah satu atraksi yang menonjol adalah parade semaphore sepanjang sekitar dua kilometer. Peserta menggunakan semaphore untuk menyampaikan pesan berupa lagu-lagu kebangsaan, di antaranya Indonesia Raya, Satu Nusa Satu Bangsa dan Dari Sabang Sampai Merauke.

Kegiatan tersebut bahkan tercatat dalam Rekor MURI.

PPSN II juga mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka kegiatan pada 17 Juni 2009 bersama Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar.

Kehadiran peserta dari sejumlah negara sahabat memperluas wajah PPSN. Perkemahan santri tidak hanya menjadi pertemuan antardaerah, tetapi mulai membuka ruang interaksi yang lebih luas.

Batam 2012, Ketika Gurindam Dua Belas Dibawa ke Bumi Perkemahan

PPSN III berlangsung di Bumi Perkemahan Raja Ali Kelana, Batam, Kepulauan Riau, pada 2–8 Juli 2012.

Edisi ini memiliki warna Melayu yang kuat.

Sekitar 4.339 santri membawa seluruh huruf Gurindam Dua Belas dalam sebuah kirab tulisan terpanjang yang tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Pembukaan yang dilakukan Menteri Agama Suryadharma Ali pada 3 Juli juga dimeriahkan 150 pemain kompang.

PPSN III saat itu dikemas bersamaan dengan Perkemahan Wirakarya Nasional mahasiswa PTAI dengan tajuk Perkemahan Pramuka Pendidikan Islam Nusantara.

Selain kegiatan kepramukaan, peserta mengikuti seminar cinta bahari, wisata bahari, pameran karya pesantren hingga festival seni.

Dirjen Pendidikan Islam saat itu, Nur Syam, menyebut kegiatan tersebut diikuti sekitar 5.000 santri dan mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk pramuka dari Malaysia dan Singapura.

Batam meninggalkan warisan berupa perpaduan antara pesantren, kepramukaan, budaya Melayu dan semangat kebangsaan.

Tanah Laut 2015, Santri Didorong Mengenal Dunia

PPSN IV berpindah ke Bumi Perkemahan Agrowisata Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Digelar pada 1–7 Juni 2015, kegiatan tersebut diikuti sekitar 4.000 santri dari 33 provinsi.

Tema yang diusung menekankan akhlak, wawasan Nusantara, lingkungan dan bela negara: "Kuatkan Jati Diri Santri yang Berakhlak Mulia, Berwawasan Nusantara, untuk Menjaga Lingkungan dan Bela Negara".

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka PPSN IV pada 2 Juni 2015.

Nuansa lokal Kalimantan Selatan turut hadir melalui ribuan pelantun Madihin dan maskot bekantan "Si Amang".

Namun warisan PPSN IV tidak berhenti ketika perkemahan selesai. Sebanyak 33 pramuka santri memperoleh golden ticket melalui proses seleksi untuk mengikuti program ASEAN SCETRO dan dipersiapkan mengunjungi Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Singapura.

PPSN mulai menjadi pintu bagi santri untuk mendapatkan pengalaman lintas negara.

Muaro Jambi 2018, Ketika PPSN Menyapa Generasi Milenial

PPSN V digelar pada 24–30 Oktober 2018 di Bumi Perkemahan Abdurrahman Sayoeti, Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri, yang rutin diperingati sejak ditetapkannya Keppres Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Mengangkat tema "Pramuka Santri Menebar Kedamaian untuk Indonesia yang Kuat dan Berkarakter", PPSN V membawa tiga spirit utama: budaya pesantren, budaya Nusantara dan nasionalisme.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka kegiatan pada 25 Oktober 2018. Sejumlah pejabat dan pimpinan Gerakan Pramuka turut hadir.

Sekitar 3.500 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti kegiatan tersebut.

Format kegiatannya pun semakin beragam. Selain pembinaan mental dan spiritual serta teknik kepramukaan, peserta mengikuti kegiatan iptek, jurnalistik, reportase, seni budaya, petualangan, kesakaan, keterampilan hingga bakti lingkungan.

Teknologi informasi, film pendek dan festival budaya membuat PPSN V terasa dekat dengan karakter generasi milenial.

Kontingen Jambi kemudian tercatat sebagai Kontingen Terbaik sekaligus Kontingen Tergiat. Sementara identitas lokal Jambi hadir melalui Bahana Melayu Krinok dan maskot Sisemah.

Malang 2026, Babak Baru PPSN

Delapan tahun setelah PPSN V, perkemahan kembali digelar.

PPSN VI berlangsung di Pondok Pesantren An-Nur II, Malang, Jawa Timur, pada 30 September–6 Oktober 2026.

Edisi keenam ini berlangsung pada masa Menteri Agama Nasaruddin Umar, sekaligus setelah pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2026.

Sebanyak 4.524 pramuka santri mengikuti PPSN VI.

Tema yang diangkat adalah "Membentuk Karakter, Merawat Lingkungan, Meneguhkan Kebangsaan, dan Berdaya Saing Global".

Ada sesuatu yang berbeda dibanding sejumlah edisi sebelumnya.

Jika Cibubur meninggalkan cerita tentang kacu raksasa, Jatinangor dengan semaphore, Batam dengan Gurindam Dua Belas, Tanah Laut dengan Madihin dan pengalaman internasional, serta Muaro Jambi dengan sentuhan budaya Melayu dan generasi milenial, PPSN VI membawa perhatian pada persoalan lingkungan.

Gagasan ekoteologi menjadi salah satu fokusnya.

Santri didorong tidak hanya memahami hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga melihat kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai keagamaan.

PPSN VI dibuka Menteri Agama Nasaruddin Umar. Hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Asrorun Ni'am Sholeh serta Dirjen Pesantren Basnang Said.

Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren dan Gerakan Pramuka memiliki titik temu dalam membentuk karakter generasi bangsa. Keduanya, menurut dia, mengajarkan kemandirian, kedisiplinan, akhlak dan kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat.

Dari Rekor ke Warisan

Enam penyelenggaraan PPSN dalam rentang dua dekade memperlihatkan satu perjalanan yang terus bergerak.

Cibubur memperkenalkan tradisi. Jatinangor memperkuat pesan kebangsaan. Batam membawa identitas Melayu dan bahari. Tanah Laut membuka pengalaman internasional. Muaro Jambi menyentuh karakter generasi milenial. Sementara Malang membawa isu lingkungan ke tengah kehidupan santri.

Karena itu, ukuran keberhasilan PPSN tidak hanya dapat dilihat dari jumlah peserta atau rekor yang tercatat.

Pertanyaan yang lebih panjang adalah apa yang tertinggal setelah tenda dibongkar dan para santri kembali ke daerah masing-masing.

Dari kacu merah putih di Cibubur hingga pesan merawat bumi di Malang, PPSN telah melewati perubahan zaman. Perkemahan itu kini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi menjadi ruang untuk membaca tantangan Indonesia dari sudut pandang santri.

Dan warisan paling penting mungkin bukan rekor yang tercatat di atas kertas, melainkan nilai yang dibawa pulang oleh ribuan santri untuk diterapkan di tengah masyarakat.


Sumber: kemenag.go.id

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi
  • Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi
  • Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi
  • Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi
  • Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi
  • Dua Dekade PPSN: Dari Rekor MURI hingga Gerakan Merawat Bumi

Posting Komentar